budisantosa49@wordpress.com

WILUJEUNG SUMPING DI ROROMPOK SIMKURING

Kamis, 10 September 2009

pertemuan islam dan barat

PERTEMUAN KEBUDAYAAN ISLAM DAN
KEBUDAYAAN BARAT

Kebudayaan Modern pada dasarnya adalah kebudayaan barat, pada kenyataannya kebudayaan ini melanda seluruh dunia dan merupakan sebuah gelombang raksasa yang menyapu segala sesuatu yang menghadangnya, di dukung oleh bangsa-bangsa tertentu yang bukan bangsa barat ikut berpartisipasi aktif menyebarkan dan mengembangkan kebudayaan barat tersebut. Untuk mengemukakan asal usul kebudayaan barat, kita dapat menjajaki berdasarkan perkembangan histories, kebudayaan modern ini bermula dengan humanisme renaisence diteruskan oleh rasionalisme abad ke 17 dan 18, dan memuncak jaman saintisme dan materialisme abad 19 dan 20. Jadi kebangkitan kebudayaan modern ini perlahan-lahan dan penjegalannya terhadap agama merupakan kekuatan yang memberikan motivasi kepada manusia dan masyarakat, telah terjadi secara sembunyi-sembunyi.dengan demikian agama Kristen telah sanggup menyesuaikan diri dengan fenomena ini. Setidaknya secara lahiriyah, agama Kristen dalam bentuk protestannya yang memperkenalkan prinsip. “ penyelidikan bebas” ke dalam persoalan keagamaan. Kristen itu sendiri adalah salah satu di antara faktor-faktor yang menciptakan mentalis modern.pada zaman sebelum reformasi, karena kesediaan Kristen telah menabur benih-benih aliensi terhadap persoalan-persoalan agama, sejarah agama Kristen di barat dan sejarah kebudayaan modern. Membentuk sebuah kontinuitas. Tanpa iterufsi-iterufsi yang terlihat. Pandangan-pandangan Kristen dan barat sesudah kedatangan Kristen merasa diri mereka dibebani oleh misi-misi universal untuk menyelamatkan umat manusia, dalam berbagai hal adalah sama. Jika pada waktu sebelumnya yang dipentingkan adalah” memenangkan dunia demi kristus” maka sekarang adalah “ memenangi dunia demi Modernisasi” – yaitu moderenisasi yang sesuai dengan model barat yang dengan semangat yang diagung-agungkan sebagai satu-satunya jalan yang pasti bagi keselamatan umat manusia.
Namun bagi umat islam kebudayaan modern merupakan sebuah fenomena aneh yang bermuka dua. Kebudayaan modern aneh karena dasar metafisisnya dan arah karena asal-usulnya geografis dan historiesnya. Dunia islam telah dipaksa berkenalan dengan dunia modern tanpa cukup persiapan yang ditimbulkan oleh sebuah proses perubahan histories dari pihak pribumi. Bagi dunia islam modernisasi telah berubah menjadi sebuah kekuatan asing yang mengganggu. Banyak peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di dunia islam selama dua abad ini merupakan akibat dari perkembangan yang sama sekali berdiri sendiri.untuk memandang sejarah islam pada waktu-waktu belakang semata-mata sebagai bentuk “respon-respon kaum muslimin terhadap barat”. Seperti yang biasa dilakukan oleh kaum orientalis adalah salah. Dan pandangan ini akibat dari sistim ethnocentris. Walaupun demikian tidak dapat disangkal sebagian besar jerih payah kaum muslimin selama lebih dari satu abad telah diarahkan untuk menentang gangguan asing atau kebudayaan barat.
Gangguan ini bermula sebagai akibat dari kebutuhan empiris, ketika pasukan dan usaha-usaha dagang Eropa memberondong dunia Islam kepada status jajahan atau setengah jajahan, pada zaman sekarang ini setelah dominasi lahirlah Imprealisme itu berakhir. Kesediaan untuk menerima kebudayaan modern masih terus berlangsung dan pendefinisian hubungan dan modernisasi yang dapat diterima tetap merupakan masalah utama bagi banyak para tokoh kaum muslimin. Berbagai pemecahan telah diberikan. Reaksi awal kebanyakan kaum muslimin terhadap perkenalan mereka yang pertama kali dengan barat modern, pada abad sembilan belas adalah penolakan total dan instinktif, bahkan terhadap ciptaan –ciptaan mereka yang biasa mesin cetak, sikap ekstrim yang berlawanan ini dengan sikap di atas pada saat sekarang adalah yang ditunjukan oleh sipendobrak yang berasal dari kaum umat muslim sendiri. Para pendobrak ini menghendaki agar kita meninggalkan seluruh ajaran-ajaran Islam, baik sebagai kultur maupun sebagai agama. Dan menelan mentah-mentah norma-norma dan methode-methode barat di dalam semua bidang kehidupan.

Diantara dua sikap yang bertentangan terdapat berbagai formula yang berusaha dengan satu atau lain cara melangkahi jurang pemisah antara tradisi islam dengan kebudayaan barat. Banyak tokoh-tokoh muslim telah menyinggung pengaruh normative yang diberikan islam kepada sumber kebudayaaan Eropa setelah abad pertengahan sebuah pengaruh yang dipancarkan dari Spanyol dan Cicilia yang pada waktu itu berada dibawah kekuatan kaum muslimin. Tokoh –tokoh ini berpendapat bahwa kebudayaan modern itu pada dasarnya berasal dari kebudayaan muslim sendiri betapapun perkembangan historisnya. Sikap ini muncul pada abad 19 didalam pemikiran pemikiran dan tulisan-tulisan dari dua tokoh yang umum di anggap sebagai pelopor
Renaissance Islam yaitu Jamel al Dien Asadabadi ( Afgahani ) dari Persia dan muridnya Muhammad abduh dari Mesir. Sikap ini mempunyai popularitas yang abadi sebagai sebuah formula yang mengijinkan berasimilasi kebudayaan barat. Misalnya tokoh-tokoh ini mengemukakan bahwa rasionalisme, demokrasi pemerintahan, parlementer, emansipasi kaum wanita, dan bahkan teori evolusi, terdapat di dalam ajaran Islam, bahkan dalam bentuk yang sempurna. Dan walaupun bentuknya seperti konsepyang di import, sebenarnya ini merupakan konsep-konsep islam yang dikembalikan lagi ke dunia Islam. Altaf Gauhar mengatakan dalam bukunya bahwa nilai-nilai abad 20 dapat dibenarkan oleh Islam, mereka mengabaikan kontradiksi, yang pokok antara mentalis modern dengan agama yang telah kita tunjukan pada awal bahasan tadi. Pemikir Islam lainnya berpendapat perlu memadu padankan unsur pilihan warisan dari kebudayaan Islam dan kebudayaan lainya. Tetapi mereka hanya sedikit sekali memberi petunjuk bagai mana memilih unsur-unsur itu dilakukan. Supaya unsur-unsur tersebut dapat diterapkan dikalangan masyarakat luas. Mereka telah membagi kebudayaan modern kedalam dimensi materil dan non materil. Yang mana unsur materil mereka terima sedangkan yang non materil mereka harus tolak karena sebagai unsur asing.
Hanya sedikit manusia yang menikmati agama dan warisan kebudayaanya tanpa sedikit banyak menyadari bahwa dalam waktu bersamaan adanya sebuah gaya berbeda dan berdasarkan pandangan hidup yang bertentangan dengan perspektif Islam. Dengan adanya ketidak selarasan respon kaum muslimin, terhadap kebudayaan modern dan hampir tak terkendalinya modernisasi dalam agama islam, kita dapat menarik kesimpulan bahwa kebudayaan modern benar-benar merupakan sebuah tantangan intelektuil bagi Islam, namun tantangan ini tidak menjadi masalah seperti, keadaan psikologis yang tercipta di dalam diri kaum muslimin karena pertemuan mereka dengan kebudayaan modern, korban pertama dari pertemuan kebudayaan ini adalah hegemoni politik, ekonomi, militer kaum muslimin di negara mereka sendiri. Korban kedua adalah keyakinan mereka terhadap diri sendiri. Keyakinan yang instinktif terhadap kebenaran dan kesempurnaan agama dan tradisi-tradisi kulturil mereka. Akibat dekatnya pusat dunia islam dengan eropa, perselisihan antara kaum muslimin dengan barat senantiasa berkesinambungan, dan dunia telah menjadi sasaran utama keagresifan barat. Kawasan ini terus menderita di bawah tekanan imprealisme barat.
Mengalah karena keadaan histories kepada suatu keadaan psikologis tertentu bukan berarti kekalahan dalam tantangan filosofis, sebuah tantangan intelektual kebudayaan dari kebudayaan modern, hal ini disebabkan kita mempunyai pengertian yang kuno terhadap penafsiran dari kebudayaan modern, sebagai kebudayaan yang sifatnya begitu meyakinkan, dinamis dan menggoda. Dengan Islam sebagai tandingannya yang lumpuh atau pasif. Kebudayan Modern sedang kehilangan kekompakan dan keyakinan seperti halnya kaum muslimin dan bangsa-bangsa yang bukan barat merasa kurang yakin kepada diri sendiri bila berhadapan dengan kekuatan barat, keyakinan yang naïf kepada agama kemajuan yang palsu, kepada kesempurnaan yang rasionalitas sebagai alat untuk memahami kepada keunggulan kebudayaan barat. Sebagai puncak sejarah manusia semua ini menjadi suram begitu kita semakin menyadari bahwa masyarakat dan individu-individu di dunia modern berhadapan dengan problema-problema yang yampaknya tak habis-habis dan tak dapat dipecahkan. Adalah ironis sekali bahwa semakin kurangnya keyakinan dan kekokohan didalamkebudayaaan barat ini justru terjadi pada waat westrenisasi, seluruh dunia bergerak dengan kecepatan yang tak pernah terjadi sebelumnya.
Sebaliknya islam jangan dipandang sebagai penerima tantangan yang pasif sebagai pihak yang perananya didalam pergaulanya antar kebudayaan hanya terbatas dalam bentuk reaksi-reaksi saja. Islam pada dasarnya adalah sebuah ajaran Allah mengenai hakikat kebenaran yang realitas, yang disertai dengan sebuah methode yang bersumber dari allah, untuk menumbuhkan kesadaran terhadap kebenaran realitas didalam setiap aktipitas kehidupan manusia, dengan allah sebagai sumbernya dan dengan hakikat kebenaranya maka islam bila ditinjau dari sudut pandangan yang tertentu adalah keras obyektif dan netral, sedang kebenaran dan keotentikanya sama sekali bebas dari pemberan atau penyanggahan manusia. Tantangan yang diajukan islam kepada mentalitas modern itu adalah beraneka ragam, yang paling penting dan radikal diantaranya adalah pernyataan tertinggi mengenai kreatifitas dan kekuasaan allah dan mengenaikehadiranya yang tak dapat di mungkiri didalam seluruh alam ciptaanya, allah telah menciptakan kita dank arena ia telah menciptakan kita maka ia memelihara kita.












PENYEBARAN ILMU PENGETAHUAN
OLEH DUNIA BARAT (EROPA)

Catatan mengenai peradaban manusia yang paling awal tercatat berasal dari timur tengah, persisnya Mesir pada zaman prasejarah, nenek moyang manusia modern di mesir sudah mengenal bahasa terbukti dengan peninggalan tulisan-tulisan yang diukir di batu-batu di dalam goa. Sejarah mencatat bahwa bangsa mesir kuno sudah mengenal ilmu bintang, ilmu bumi, arsitektur dsb. Bangsa mesir kemudian juga mengembangkan phapyrus (sejenis kulit kayu) yang dijadikan bahan tulis (3000 SM).
Pada tahun 105 M Ts’ailun dari Cina menemukan kertas menggunakan teknik yang tergolong canggih pada masa itu, bangsa cina memproduksi kertas dari pohon bambu yang dihancurkan, kemudian memanfaatkan seratnya untuk diproses dan dijadikan lembar tipis bernama kertas.
Sejarah mencatat bahwa sejak itu Cina memimpin peradaban manusia dan sebagai dampak dari penemuam kertas ini, bangsa Cina melahirkan banyak penemuan-penemuan baru seperti Kompas dan mesiu dll. Penemuan-penemuan besar yang mempengaruhi kemajuan peradaban manusia ini tercatat dalam “100 tokoh yang paling berpengaruh pada sejarah umat manusia “.
Pada tahun 1439 seorang Jerman bernama Johannes Gutenberg menemukan mesin cetak. Penemuan mesin cetak Gutenberg memberi dampak pada ledakan Ilmu pengetahuan di Eropa dan penemuan-penemuan baru di berbagai bidang.
Bangsa Eropa kemudian tercatat menggantikan Cina menjadi pemimpin Ilmu pengetahuan dan peradaban manusia hingga sekarang.
Perjalanan sejarah manusia membuktikan bahwa kemajuan peradaban Manusia dipicu perkembangan Ilmu Pengetahuan. Perkembangan Ilmu Pengetahuan tidak terlepasa dari cara penyebaran dan penyampaian Informasi dan Ilmu Pengetahuan itu sendiri.
Bangsa Cina berhasil mengejar ketertinggalan dari bangsa Mesir ketika Ts’Ai Lun menemukan kertas dan merevolusioner cara Distribusi Ilmu Pengetahuan. Demikian juga penemuam mesin cetak oleh Bangsa Eropa kembali merevolusioner cara mencetak Buku dan mendistribusikan Ilmu Pengetahuan sehingga membuat Bangsa Eropa menjadi pemimpin selama berabad-abad lamanya.
Buku adalah jendela Ilmu, sebuah kiasan yang dipercaya secara turun temurun. Buku memainkan perananan penting dalam penyebaran Ilmu Pengetahuan, dan membawa peradaban Manusia kearah lebih maju dan lebih modern.
PERTEMUAN KEBUDAYAAN YUNANI
DENGAN KEBUDAYAAN ISLAM

Pemikiran-pemikiran filsafat yunani yang masuk dalam pemikiran Islam, diakui banyak kalangan telah mendorong perkembangan filasafat islam menjadi makin pesat. Namun demikian, seperti dikatakan Oliver Leaman, adalah suatu kesalahan besar jika menganggap bahwa filsafat Islam bermula dari penerjemahan teks-teks Yunani tersebut atau hanya nukilan dari Filsafat Aristoteles (384-322 SM) seperti dituduhkan Renan, atau dari Neo-Platonisme seperti dituduhkan Duhem. Pertama, bahwa belajar atau berguru tidak berarti meniru atau membebek semata mesti dipahami bahwa kebudayaan Islam menembus berbagai macam gelombang dimana ia bergumul dan berinteraksi. Pergumulan dan interaksi ini melahirkan pemikiran-pemikiran baru. Jika kebudayaan islam tersebut terpengaruh oleh Kebudayaan Yunani, mengapa tidak terpengaruh oleh peradaban India dan Persia misalnya ?, artinya Tranformasi dan peminjaman beberapa pemikiran tidak harus mengkonsekuensikan perbudakan dan penjiplakan, kedua, kenyataan yang ada menunjukkan bahwa pemikiran rasional telah dahulu mapan dalam masyarakat Muslim sebelum kedatangan filsafat Yunani.
Meski karya-karya Yunani mulai diterjemahkan pada masa kekuasaan Bani Umayyah, tetapi buku-buku Filsafatnya yang kemudian melahirkan Filosof pertama Muslim yakni Al-Kindi (801-873 M), baru mulai digarap pada masa dinasti Abbasyiah khususnya pada masa Al-makmun (811-833 M), oleh orang-orang seperti Yahya Al-balmaki ( wafat 857 M), Yuhana Ibnu Musyawaih dan Hunain Ibnu Ishaq. Pada masa-masa ini sistim berfikir rasional telah berkembang pesat dalam masyarakat Intelektual Arab-Islam, yakni dalam Fiqih dan Kalam.
Semua itu menunjukkan bahwa sebelum dikenal adanya logika dan filsafat Yunani telah ada model pemikiran filosofis yang berjalan baik dalam masyarakat Islam, yakni dalam soal-soal Teologis dan kajian hukum. Bahkan pemikiran Rasional dari Teologi dan Hukum inilah yang telah berhasa menyiapkan landasan bagi diterima dan berkembangnya logika dan Filsafat Yunani dalam Islam.





PERKEMBANGAN ALAM PIKIRAN
UMAT ISLAM

Perkembangn Ilmu Pengetahuan di dunia Islam, pengetahuan akal dan intelektual merupakan suatu dorongan intristik dan inheren dalam ajaran islam. Pada masa daulah Abbasiah, Ibukota Baghdad menjadi pusat Intelektual Muslim, dimana terjadi pengembangan Ilmun Pengetahuan dan kebudayaan Islam. Sekolah-sekolah dan Akademik muncul disetiap pelosok. Perpustakaan-perpustakaan umum yang besar didirikan dan terbuka untuk siapapun sehingga pemikiran Filosofis-filosofis besar zaman klasik dipelajari berdampingan dengan Ilmu Islam. Bila dianalisis lebih lanjut sampai periode-periode ini kaum Intelektual Islam identik dengan Ulama. Apalagi bila diingat bahwa Ulama dalam Pengertian aslinya orang berilmu. Ilmu yang dikuasainya itu tidak terbatas pada Ilmu Agama saja. Pendapat ini bias dipegang karena kegiatan Intelektual itu tumbuh karena manusia sibuk dengan urusan Agama. Mereka ini disebut intelektual atau Ulama klasik yang oleh Shill sebagai intelektual lama atau intelektual sacral dari Abad Pertengahan.
Demikianlah sejarah perkembangan Intelektual Muslim pada masa yang disebut Harun Nasution sebagai periode klasik (650-1250) yang merupkan zaman kemajuan, dimasa inilah berkembangnya dan munculnya ilmu pengetahuan, baik dalam bidang agama maupun Non Agama dan Kebudayaan Islam. Zaman inilah yang menghasilkan Ulama besar seperti Imam Malik, Abu Hanafi, Imam As-syafi’i dan Imam Ibnu Hambali dalam Bidang Hukum, Teologi Zunnunal Misri, Abu Yzaud Al-Butami dan Al-Hallaj dalam mistimisme atau tasawuf, dll.
Pada masa kejayaan ini perkembangan intelektual muslim mencapai puncaknya sehingga cenderung membentuk pemikiran bebas ( rasionalisme ). Keadaan ini menimbulkan pertentanagn dan kecemasan dikalangan sebagian kaum intelektual muslim, pemikiran ini ditentang oleh Al-Ghazali (1059-1111). Sampai sekarang diakui bahwa periode sejarah peradaban Islam serta pendidikan yang paling cemerlang terjadi pada masa pemerintahan daulah Abbasyiah di Baghdad (750-1285 M) dan Daulah Umayyah di Spanyol (711-1492 M).

mutajilah

ALIRAN MU’TAZILAH
1. Sejarah lahirnya aliran Mu’tazilah
Mu’tajilah merupakan aliran teologi islam terbesar dan tertua dalam agama Islam, aliran Mu’tajilah lahir kurang lebih pada permulaan abad pertama Hijrah di kota Basrah ( Irak) sebagai pusat kebudayaan dan tempat berkumpulnya para ilmuan dari berbagai agama, pada waktu itu banyak orang yang ingin menghancurkan agama islam, terutama dalam bidang Aqidahnya, sejak islam meluas banyak bangsa-bangsa yang masuk islam dan berada dibawah naungan islam,
Akan tetapi tidak semua yang memeluk agama Islam dengan iklas menerima islam ada sebagian yang ingin menghancurkan islam dengan idologionya, hal ini bermula pada masa khalifah Umayah, disebabkan khalifah Umayyah ini telah memonopoli segala kekuasaan Negara kepada orang-orang Islam dan arab, hal ini menimbulkan kebencian terhadap orang-orang Arab, diantara lawan-lawannya yaitu golongan Rafidah atau kaum syiah extrim, yang banyak memasukan segala sumber ilmu yang jauh dari ajaran agama, seperti agama Manu, aliran Agnostik, yang beredar di kufah dan basrah. Termasuk lawan Islam dari Golongan Tasawuf Hulul( Inkarnasi ) yang mempercayai tempat tuhan pada manusia.
Adapun asal usul nama mu’tazilah adalah berasl dari kat I’tazala (memisahkan diri , menjauhkan diri, menyalahi pandapat orang lain)
Disebut Mu’tazila karena Wasil Bin Atha, Amr bin Ubaid menjauhkan diri (I’tazala) dari pengajian Hasan Basri di basrah, dan membentuk pengajian lain , sebagai tindak lanjut Pendapatnya mengenai orang yang berdosa besar ia berpendapat bahwa orang yang dosa besar tidak mukmin lengkap dan tidak kafir lengkap.
Menurut pendapat lain disebut mu’tazilah karena mereka menjauhkan diri semua pandapat yang telah ada tentang orang yang mengerjakan dosa besar, golongan murjiah mengatakan bahwa membuat dosa besar masih temasuk orang mukmin, menurut khowariz ia telah kafir, sedang menurut Hasan al basri ia adalah munafiq, dan menurut wasil bin atha ia mengatakan bahwa orang yang membuat dosa besar adalah bukan mukmin dan bukan kafir juga.menurut riwayat ini sebab penyebutan mu’tazilah nama ma’nawiyah yaitu menyalahi kepada kedua pendapat orang lain.

a. Sejarah lahirnya golongan mu’tajilah
Menurut Ahmad amin, sebutan mutajilah telah ada sejak 100 tahun sebelum masa Hasan Al Basyri, tepatnya pada masa konflik atas wafatnya Kholifah Usman bin affan, antara Thalhah dan jubair dalam satu pihak dengan Ali r.a, dan antara Muawiyah dengan ali r.a. meskipun konflik ini merupakan konflik politik, namun mempunyai corak agama, karena semua tatanan hidup dalam agama islam seperti, social, budaya, ekonomi, politik semuanya telah diatur dalam agama.
Golongan ini berpendapat bahwa’ kebenaran tidak mesti ada pada salah satu pihak yang bersengketa, bahkan kedua-duanya bias salah, sekurang-kurangnya tidak jelas kebenarannya. Sedangakan agama memerintahkan untuk memerangi yang menyeleweng, kalau keduanya menyeleweng atau belum tidak diketahui siapa yang nyelewengnya maka kami harus menjauhkan diri ( I’tajala )”.
Ada kemiripan pemikiran antara golongan mu’tajilah pada masa sengketa dengan mu’tajilah pada masa wasil bin atha, kedua-duanya mengambil jalan tengah untuk memponis terhadap keimanan seseorang, namun pada masa wasil bin atha ditambahkan lagi dengan persoalan-persoalan agama seperti hal-hal yang meta fisik, sifat tuhan, jisim, ardh dsb.
Ahmad bin murtadha dalam bukunya “ al munayatu wal amal “ menjelaskan bahwa golongan mu’tajilah ini hendak menyingkir dari bid’ah-bid’ah, itulah sebab mereka disebut dengan nama mu’tajilah. Golongan ini bersandar pada ayat al qur’an dan sunah nabi sebagai berikut;

1. Wahjurhum hajran jamila
Artinya’ tinggalkan mereka dengan cara yang baik”
Makna meninggalkan adalah menjauhi mereka yaitu I’tazala
2. Man I’tazalas syara waqa ‘afill chairi
Artinya’ siapa yang menjauhi keburukan akan jatuh dalam kebaikan ‘

Sedangakan nama yang disukai oleh golongan ini adalah “ ahlul adli wat tauhid” (golongan ketauhidan da keyakinan ) nama ini diambila dari dua prinsif dasar golongan mutajilah yaitu keadilan tuhan dan keesaan tuhan.

b. Tokoh-tokoh Aliran mu’tajilah
1. Wasil bin atha
Ia adalah pendiri aliran mu’tajilah dan sekaligus pemimpin yang pertama serta peletak pertama lima perinsip ajaran mu’tajilah
2. Al alaf.
Ia adalah murid dari usman atawil murid wasil bin atha,
3. An nazzham
Ia merupakan orang yang pintar berbicara, dan mempunyai kekuatan otak yang luar biasa, ada beberapa teori yang yang lahir akibat dari kepintarnya seperti teori keraguan ( method of doubt ) dan empirikka ( percobaan ), menjadi dasar lahirnya renaissance di eropa. Teori ini dilanjutkan oleh muridnya al jahhil, kata al jahhil “ belajarlah benr-benar keraguan dalam hal yang diragukan itu, kalo sekiranya hal yang demikian sudah mengenal berhenti berpikir kenudian teguh pendirianya maka hal tersebut cukup untuk dibutuhkan.
4. Al jubbai ( 303 H/915 M )
Al jubai adalah guru dari imam al asyari tokoh utama aliran ahlusunnah.
5. Bijr bin al Mu’tamir
Ia merupakan pendiri aliran mu’tajilah di bagdad. Ada beberapa paham kemu’tajilahan yang sedikit saja sampai kepada kita, ia adalah orang yang pertma mengemukakan soal “tawallud “ ( refroduction ) yang di maksudkan untuk mencari batas –batasan pertanggungan jawab atas perbuatan manusia.
6. Al chayat (300H/912 M )
Ia adalah tokoh mu’tajialah bagdad, ia pengarang buku al Intisar yang dimaksud untuk membela serangan dari Ibnu al Rowandi.
7. Al Qadhi abdul jabar (1024 M )
Ia hidup pada masa kemunduran mu’tajilah kemudian diangkat menjadi kepala hakim ( qadhi al qudhat)
8. Al zamahsary ( 467-538 H/1075-1144 M )

c. Ajaran – ajaran Pokok Mu’tajilah.
Aliran mu’tajilah mempunyai lima prinsif dasar yang berkenaan degan faham mereka, yaitu.
1. tauhid ( keesaan allah )
2. Al-adlu, ( Keadilan Ilahi )
3. Al manjila baina al manzilatain ( suatu tempat antara dua tempat )
4. Al wa’du al wa’id ( janji baik dan buruk )
5. Amar ma’ruf nahi munkar

a. Tauhid
Agama islam adalah agama tauhid, yakni pengakuan sepeti tiada tuhan selain allah yang tertuang didalam kalimah syahadat “ laailaaha illallah” , kalimah ini menjadi syarat bagi seseorang untuk masuk pkepada ajaran agama islam atau ssebutan menjadi Mukmin. Allah merupakan tuhan yang maha esa, baik dzat, sifat maufun perbuatan ( fiil ) tidak satupun mahluk yang bisa menyerupainya. Di daslam al qur’an telah menyebutkan allah mempunyai sifat-sifat kesempurnaan seperti Qodrah, iradah, dan Ilmu , dan sebagian juga mempunyai sifat khabariyyah yang mengisyaratkan ada persamaan dengan sifat-sifat manusia, seperti tangan, wajah, mata dan lain sebagainya, itu menimbulkan suatu pertanyaan di golongan para ulama dalam menafsirkannya dengan dzat allah yang maha esa dan tidak ada yang serupa dengannya., hal ini para ulama bertawakuf dalam menghadapi permasalahan ini, dan kalau di paksakan juga dalam memperbincangkan dengan nalar itu akan dipandang sebagai bid’ah.
Dalam klqngan mutajilah msaqlah hubungan sifat allah denganjatnya dibahas dan ditafsirkan dengan ajaran tauhid murni, didalam pemikiranmereka allah adalahesa, dan sifatnya sifatnya yang disebut dalam al qur’an dan hadis tidak beda dengan dzatnya yakni sifat adala dzat itu sendiri “ alshifatu ainil dzati’ artinya mereka menolak pendapat yang mengatakan bahwa sifat berbeda dengan dzat, dengan alas an allah itu qadim. Jika sifat berbeda dengan dzat berarti tidak hanya dzat yang qodim tapi juga sifat.
Seperti diketahui bahwa sifat qodim itu dadlah dzat dari allah swt, dan jika hal itu demikian halnya, maka terdapat banyak qodim pada allah ( dzat allah ) hal ini akan membawa kepada kesyirikan yang bertentangan sengan ketauhidan murni.seperti yang terdapat dalam akidah orang nasrani yang menyatakanbahwa tuhan itu terdiri dari 3 unsur , bapak, anak, ruh kudus, yang mempunyai sifat qodim dan mempunyai tingkatanyang sama. Akan tetapi menafsirkan sifat sebagai dzat saja sedangkan sifat-sifat allah itu tidak ada atau kurang berfungsi, pemahama seperti ini dapat bercanggah dengan adanya ayat al qur’an yang telah menggariskanadanya sifat-sifat kesempurnaan bagi allah.
Sifat-sifat allah yang mewujudkan kesempurnaan –nya adalah sifat-sifat ma’ani yang terjadi dari 7 sifat yaitu: hayan, ilmu, qudrah, iradah, sam’u, basar, dan kalam, sifat-sifat ini juga sama dimiliki oleh manusia sebagai suatu makan atau pengertian yang berbeda degan dzatnya atau dirinya. Sedangkan bagi allah kata muktajilah sifat-sifat tersebut merupakan satuan pengertian yang tidak berbeda dari dzatya, jadi menurut faham ini manusia mengetahuai dan berkuasa atau berkehendak dengan sebab adanya sifat ilmu, sifat qudrah, sifat iradah, pada dirinya, sedangkan allah mengetahui berkuasaan dan berkehendak dengan dzatny sendiri, bukan dengan sifat-sifat itu.dan sifat-sifat ini tidak lebih dari hanya pandangan akal “ I’tibar aqliyyyah “ terhadap dzat yang esa itu sehinga sifat-sifat itu banyak dan terbilang, dan karena banyaknya dan bisa terbilangnya segi-segi pandangan akal atasnya. Jadi allah mengetahui, berkuasa, berkehendak dengan dzatnya bukan dengan sifatnya,.
Penafsiran lain tentang sifat-sifat allah di kemukakan juga oleh pemuka muktajilah lainya seperti Abu hudzail al alaf bahwa allah swt memiliki sifat-sifat tersebut, tetapi tidak berbeda dengan dzatnya. Jadi allah mengetahui dengan sifat ilmu tetapi sifat ilmu itu adalah dzatny. Berkuasa dengan sifat qudrah, qudrannya itu adalah dzatnya. Dan sebagainya, penafsira ini hanya tampak dari lahirnya saja sedangkan pada hakekatnya tidak beda dengan penafsiran di atas, sebab yang berfungsi pada penafsiran itu hanya dzat bukan sifat, artinya tidak beda dengan menafikan pengertian sifat, yang pertama dengan cara langsung dan yang kedua dengan cara tidak langsung. Penafsiran cara tersebut untuk menafikan adanya suatu persamaan antara allah dengan manusia seperti yang telah digariskan dalam al qur’an as syura / 42:11
                       
Pencipta langit dan bumi. dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan- pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan Melihat.


Membedakan sifat dengan dzat- katanya- mengakui adanya dua qodim ini akan membawa kepada dua pengakuan adanya dua tuhan karena sifat qadim adalah khas baginya karena yang lainya adalah baru.
Dengan dasar demikian kaum mutajilah menafikan beberapa pendapat kaum musjabihah atau mujasimah yang menyamakan tuhan dengan manusia. Memang terdapat dalam alqur’an tetapi itu penafsiran nya secara harfiah, menujukan persamaan allah dengan mnusia seperti dalan surat thahaa/20:5
    
(yaitu) Tuhan yang Maha Pemurah. yang bersemayam di atas 'Arsy

Surat thaha / 20:39
                       
Yaitu: "Letakkanlah ia (Musa) didalam peti, Kemudian lemparkanlah ia ke sungai (Nil), Maka pasti sungai itu membawanya ke tepi, supaya diambil oleh (Fir'aun) musuh-Ku dan musuhnya. dan Aku Telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku dan supaya kamu diasuh di bawah pengawasan-Ku,

Surat al fat hu /48:10

•                         •  
Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu Sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah tangan Allah di atas tangan mereka Maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah Maka Allah akan memberinya pahala yang besar.

Surat al Qashas /88
    •                  
Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, Tuhan apapun yang lain. tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali wajah (Allah ). bagi-Nyalah segala penentuan, dan Hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan.

Ayat –ayat tersebut merupakan dalil yang di anut oleh golongan majasimah, seperti muqotil bin sulaiman yang menyamakan tuhan dengan manusia. Untuk menghadapi hal yang demikian maka Golongan mu’tajilah telah menafsirkan dengan pengertian lain supaya sesuai dengan paham tauhid yang dianut dan juga ayat tanjih ( walam yakul lahuu kufuwan ahad ) yang menafsirkan persamaan allah dengan mahluknya . dari itu mereka menafsirkan ( istawaa ) dengan ( istilaa’) yakni menguasai, ( ‘ainun ) dengan ilmu, ( yaduun) dengan kekuatan, (wajhahun ) dengan dzatnya, dan mu’tajilah juga menolak dengn keras terhadap faham kaum kristiani yang mengatakan tuhan yang maha esa terdiri dari 3 unsur.

a. Al adl al illahi
Masalah keadialan tuhan tidak lepas dari perbuatan manusia di muka bumi ini seperti dikatakan oleh jaham bin sofyan yang beranggapan bahwa manusia adalah mahluk determinis tidak mempunyai kehendak bebas dalam menentukan dan pilihan segala sesuatunya telah diatus dan di gariskan oleh tuhan.
Sebaliknya dengan paham qodariyah yang diajarkan oleh Ghilan al damasiqi bahwa manusia mempunyai kebebasan memilih dan dan kehendak bebas dalam menentukan dan melakukan perbuatanya dan karena itu dia bertanggung jawab penuh atas perbuatan dan karena itu ia bertanggung jawab atas akibat yang di timbulkannya. Faham ini mendapatkan tempat yang khas dalam madzhab muktajilah dalam meletakan sesuatu kaitan dengan keadilan allah yang merupakan kesempurnaanya, seorang pemuka muktajilah al Qodhi abdul jabar, mengatakan: ‘ ahlu adl adl ( muktajilah ) telah sepakat bahwa perbuatan tingkah laku berdiri dan duduk mereka ( manusia ) adalah terjadi dari sebab mereka. Dan allah taala telah membeir mereka kekuasaan atas yang demikian itu; tidak ada yang membuat tidak ada yang menjadikannya, ( perbuatnnya ) selain dari mereka. Dan barang siapa yang mengatakan bahwa allah taala yang membuat dan yang menjadikan maka dia telah melakukan kesalahan besar”.
Golongan mu’tajilah mengatakan bahwa erat hubunganya antara kebebasan berkehendak manusia dengan keadilan tuhan. Bagaimana mungki manusia tidak diberi kebebasan tetapi harus mempertanggung jawabkan perbuatanya yang itu merupakan kehendak dari allah swt. Itu telah bertentangan dengan keadilan tuhan yang menghendaki manusi diberi balasan sesuai dengan kehendaknya yang bebas, bukan paksaan. Dan selanjutnya ia dapat meniadakan kezaliman dari allah dengan sebab kemungkaran yang dilakukan oleh manusia, dan sekira itu kemungkaran telah ditentukan allah atas manusia sejak ajali, maka balasan yang diberikan atasnya meupakan suatu ke zaliman.
Ini bermakna atas keadilan illahi menanam dalam diri manusia dengan rasa tanggungjawab atas segala perbuatannya. Karena ia yakin bahwa perbuatanya dilakukan dengan penuh kehendak dan pilihanya sendiri, dan jika ia kemudian dia memperoleh balasanya atas perbuatanya itu. Maka itu adalah hal yang wajar, dan adil, tidak mengandung sedikitpun unsure kezaliman. Maka jika allah memberikan balasan kepada manusia karena suatu kemaksiatan yang dilakukan bukan dari kehendak dan pilihanya.tetapi telah ditentukan sejak azali, maka balasan yang diberikan itu adalah tidak adil dan selanjutnya alah yang berlaku zalim atas hambanya. Jadi keadilan illahi mengharuskan adanya kebebasan kehendak dan pilihan padamanusia dalam perbuatanya. Sehingga ia pertanggung jawabkan penuh atas pebuatanya. Dan keadilan illahi mengharuskannya menepati janjinya yakni allah wajib membalas orang-orang mukmin yang taqwa dengan memasukan mereka kedalam surga, dan juga wajib memasukan orang kafir kedalam neraka. Dan allah tidak berbuat sebaliknya karena bertentangan dengan keadilanya. Demikian juga allah tidak dapat memberi syafaat pada hari kiamat kepada orang mukmin yang melakukan dosa besar seperti yang dianut oleh kalangan ahlisunah waljamaah karena ia merupakan pelanggaran terhadap janjinya yang telah dinyatakan dalam alqur’an .

b. Al Manjilah bain al Manzilatain
Prinsip wasil bin atha memisahkan diri dari majlis hasan basri, menurut pendapatnya, seorang mukmin yang mengerjakan dosa besar selain syirik ( mempersekutukan tuhan ) bukan lagi seorang mukmin tetapi juga tidak menjadi orang kafir. Melainkan menjadi orang fasik. Tingkatan fasik ini berada antara dibawah orang mu’min dan diatas orang kufur,.
Hjalan tengah ini yang kemudian berlaku dalam bidang-bidang lain yang di ambil dari al quran , hadis dan perkataan orang bijak.

1. Surat al isra ayat 31yang menganjurkan dan memuji jalan tengah.
          •                •     

Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu Karena takut kemiskinan. kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.


2. Hadis nabi “ chairul umuri ausathuha “ sebaik-baikny perkara adalah yang tengah.
3. Perkataan ali r.a. “ kun fiddunia wasthan “ jadikan kamu dalam dunia ini tengah-tengah”
Sumberlain dari prinsif jalan tengah ialah filasafat yunani, antara lain aries toteles yang dikenal dengan teori “ jalan tengah emas ‘. ( golden means). Yang mengatakan bahwa tiap-tiap keutamaan merupakan jalan tengah antara kedua ujung yang buruk. Keberanian adalah tengah- tengah antara gegabah dan penakut, kedermawanan tengah-tengah antara penghamburan dan kikir, penghanrgaan diri tengah-tengah antara kesombongan dan kehinaan diri. Maka bersandarkan kepada penilaian di atas maka alira muktajiah lebih mendalami pemikiranya tentang jalan tengah tersebut, sehingga menjadi prinsif dalam lapangan berpikir ( rasio ) dan akhlak ( etika ) dan menjadi landasan berfilsafat yang selalu ingin melandasi dengan sedang ( moderation ) dalam segala hal, mengambil jalan tengah antara dua hal yang berlebihan, dan mempertemukan dua hal yang berlawanan.

c. Al wa’d dan al wa’id ( Ancaman dan janji )
Yang di maksud dengan al wa’du adalah dan khabar yang menjamin sampainya manfaat bagi orang lain atau menolak kemadorotan darinya pada masa yang akan datang. Al wa’id adalah kebalikanya semua janji atau khabar yag menjamin sampainya kemadaratan kepada orang lain atau menghilangkan manfaat darinya pada masa yang akan datang.
Prinsip ini merupakan pecahan dari keadilan tuhan, bahwa orang yang berbuat dosa akan mendapatkan siksaan neraka dan sebaliknya orang yang berbuat baik akan mendapatkan pahala dan dimasukan kedalam surga. Kaum muktajilah menolak adanya syafaat di hari kiamat yang diberikan kepada orang mukmin yang durhaka. karena akan mendorong orang mukmin untuk berbuat dosa besar dengan harapan mendapatkan ampunan dan syafaat dari allah. Dan dari itu janji dan siksa bagi para pendurhaka yang mesti dipenuhi akan mendorng untuk menjauhkan diri dari perbuatan keji tersebut. Dalam islam memang ada ajaran tentang syafaat yang akan diberikan dengan ijin allah kepada umat nabi muhamad kelak diakherat yang melakukan dosa besar. Para ulama islam telah berijma tentang orang yang melakukan dosa besar itu ada dua, yang pertama adalah dosa syirik yang tidak diampuni dosanya dan akan kekal di neraka, dan yang kedua adalah dosa yang Sembilan yaitu, membunuh orang tanpa kebenaran, berzina, durhaka kepada orang tua, sumpah palsu, sihir, makan harta anak yatim, makan riba, lari dari medan perang dan menuduh wanita muslimah yang besuami melakukan zina.
Orang yang melakukan dosa besar tersebut tidak kana mendapatkan syaffat diakhirat, tidak ada gunanya doa ampunan dari keluarganya setelah mati berdasarkan firman allah surat anajm /53:39:
      

Artinya;”tidak ada bagi manusia selain dari
apa yang telah diusahakan ‘
Hanya dengan tobat nasuha semata yang bisa membebaskan dari dosa tersebut.

d. Memerintahkan kebaikan dan meklarang kepada keburukan.
Prinsip mutajilah mengenai hal ini berkisaran di amalan lahir serta berkaitan dengan fiqh. Banyak ayat-ayat yang mengupas tentang prinsip ini diantaranya surat ali imran ayat 104 :
  •             
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.


Surat Luqman ayat 17:
             •                   •     

Hai anakku, Dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan Bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).



Sejarah pemikiran islam menunjukan betapa giatnya orang-orang mutajilah dalam mempertahankan islam terhadap kesesatan yang tersebar luas pada masa abasiyah yang hendak menghancurkan kebenaran-kebenaran agama islam, bahkan mereka tidak segan-segan dalam mempertahankan prinsipnya dengan kekerasan, meskipun terhadap golongan islam itu sendiri. Menurut orang mutajilah bahwa orang yang menyalahi prinsip mereka adalah sesat dan harus di luruskan.

3. FILSAFAT ALIRAN MU'TAJILAH
Pada mulanya filsafat tidak menjadi tujuan golongan mu'tajilah hanya saja sebagai alat untuk menangkal serangan-serang lawan, tetapi setelah mengenal filsafat lebih jauh pemikiran muktajilah mengalami suatu pase revolusi pemikiran yang penting dalam kehidupan mereka. Setelah mereka mengenal dan mencintai filsafat karena filsafat itu sendiri maka kelanjutanya sebagi berikut;
a. Mereka menjungjung tinggi filosof yunani dan menempatkanya setingkatan dengan nabi-nabi, dan mempercayai kebenaran dari pendapatnya serta dianggap sebagai pelengkap dalam ajaran agama islam. Karena itu mereka denga asik mensinkritsme filsafat yunani dengan ajaran islam, hal ini mendorong terhadap fara filosof –filosuf setelah muktajilah untuk melakukan pengkajian lebih mendalam dan lebih jelas.
b. Aliran muktajilah sedikit demi sedikit mejauh dari tujuan mereka yang bersifat agama murni dam mulai mengenyampingklan persoalan-persoalankepercayaan dan ketuhanan.dan mereka mulai memperhatikan filsafat murni seperti soal " gerak" ( harakah ) "diam ' ( sukun ) ' Jauhar' "aradh ", " Maujud " . "ma'adum " dan bagian yang tidak bisa di bagi-bagi loagi seperti "atom".
O. leary mengatakan bahwa filsafat yunani telah meninggalkan pengaruh yang besar terhadap pemikiran islam. Karena itu tepatlah apabila aliran muktajilah dipertalikan dengan filsafat da dianggap sebagai filosof-filosof pertama dalam islam, orang muktajilah adalah orang islam pertama yang membukakan pintu filsafat, serta menterjemahkan buku-bukunya serta meratakan jalan bagi orang – orang yang datang kemidian.

a. sinkretisme agama dan dan filsafat.
Ajaran agama mengatakan bahwa alam semesta ini adalah baru dan diadaka oleh tuhan dari tiada, sedangkan menurut filsafat mengatakan bahwa alam semesta qodim, ( eternal ) yang selalu ada dan tidak mungkin dari tiada, orang muktajilah mendapatkan dua ajaran yang berlawanan, kemudian mereka mencari jalan untuk mempertemukanya antara lain;
Al-'alaf
Ia mengatakan bahwa gerak gerik mahluk disurga dan neraka akan berakhir dan menjadi ketenangan abadi dimana mereka tidak bisa lagi menggerakan anggota badanya, dan tidak bisa meninggalkan tempatnya. Dalam ketenangan itulah kelezatan ahli surge akan berkumpul dan kepedihan bagi ahli neraka. Dan segala kelezatan dan kepedihan tepap mereka tidak bergerak bagaikan benda yang mati. Dengan hal tersebut alalaf ingin mengatakan bahwa apa yang disebut dengan pencipta ( khalk ) oleh agama adalah perubahan atau member gerak, yaitu dengan jalan memasukan gerakan pada benda yang diciptakan. Jadi alam semesta sebelum diciptakan ada dalam keadaan diam dan tenang ( tidak bergerak ) kemudian diciptakan oleh tuhan dalam keadaan bergerak, dengan kata lain bahwa ala mini adalah qodim,sepertia apa yang dikatakan oleh para filsafat. Sedangkan yang dimaksud dengan penciptaan ( kholk ) seprti yang dikatakan oleh agamatiada lain hany memberi gerak ( menggerakan ) dan pemusnahan itu tiada lain ialah menghentikan gerak.
Demikian pendapat al alaf, dan menurut pendapat mac donlad, pendapat itu timbul karena untuk menyatukan agama dan filsafat.

Mu'amar bin abbad
Menurut muamar hancurnya ( fana ) sesuatu tempat pada lainya, kalau tuhan menghendaki alam hancur, dan kehancuran itu telah terjadi maka tuhan membuat sesuatu yang lain untuk menjadi tempat hancurnya alam tersebut. Untuk menjadi tempat baru atas hancurnya alam, dan begitu juga seterusnya, dan mustahil jika alam hancur menjadi tiada yang ada hanyalah tuhan.
Pendapat muamar dapat di umpakakan dari hancurnya sebuah kapal, yang reruntuhannya digunakan untuk rel kereta api, rel kereta api hancur reruntuhanya daijadikan sabit atau pisau dan seterusnya.
Demikian usaha dari muamar dalam mempertahankan antara ketentuan agama tentang kehancuran alam dengan pendapat filsafat, tentang mustahil hilangnya materi ( benda ), dan muamar menetapkan kekuasaan tuhan untuk meghancurkan alam, jadi ia memegangi ketentuan agama, dan ia juga mengatakan bahwa kehancuran alam semesta ini aka nada alm penggantinya, jadi ia memustahilkan kehancuran mutlak, dan demikian ia tetap berpijak pada filsafat.
Usaha pemaduan agama dengan filsafat dan pengambilan jalan tengah merupakan rintisan dan karya pemikiran yang penting dari aliran mu'tajilah dan yang diwariskan kepada orang-orang yang datang sesudashnya, sejarah dunia piker islam menunjukan, bahwa setelah kegiatan aliran mu'tajilah berakhir, maka karya pikiran tersebut dilanjutkan oleh golongan filosof murni, seperti acwanussofa, ibnu sina dan yang lainya. Setelah menempuh sinkretisme antara agama dan filsafatsebagai mana dilakukan oleh imam al asyari dalam pemikirannya mengambil jalan tengah antara pemikiran mu'tazilah dengan ahli hadis.
Karena orang – orang muktajilah asyik berfilsafat dan banyak pula terpengaruh oleh pemikiran-pemikirannyamaka mereka percaya tentang kekuatan akaldan kesanggupan otak manusia untuk mengetahui segala sesuatu dan membandingkanya satu sama yang lainya, salah satu hasil karya mereka yaitu; al "fiqru qobla wurudis syar'i" maksudnya adalah akal pikkiran harus didahulukan daripada syara' karena itu semua aliran mu'tajilah sepakat pendapatnya bahwa sebelum datang syara, orang yang berakal dengan akalnya semata-mata bisa membedakan antara perbuatan baik dan perbuatan buruk, dan lebih dari itu juga akal bisa mengetahui tuhan, kalau ia tidak sungguh-sungguh dalam mengetahui tuhan maka ia akan mendapatkan siksa selama-lamanya.
Akan tetapi ada perbedaan tentang batsan penghargaan terhadap kemampuan akal, seperti an nazam , sebelum datangnya syara seseorang yang berakal dapat mengetahui tuhan dengan penyelidikan akalnya, artinya sudah melalui pemikiran dan perenuangan, jadi a posteriori.
Al alaf lebih menghargai kekuatan akal ia mengatakan pengetahuan tentang tuhan dan tentang dalil-dalil adanya terjadi dengan keharusan akal dan tanpa pemikiran-pemikiran / pertimbangan dulu, jadi pengetahuan a priori.
Tentang pengetauan lainnya yang timbul dari indra atau analogi, dikatakan oleh al alaf bahwa pengetahuan itu adalah pengetahuan acuisi ( yang diusahakan –Iktibsab ) jadi a posteriori, sumamah bin asyras berpandapat baahwa senua pengetahuan datang dengan sendirinya.
Pembahasa aliran mu'tajialah mengenai teori tahu ( ma'rifah ) telah mendahului dua aliran filsafat modern di eropa seperti aliran rasionalis dengan tokohnya descrates, Leibniz, Spinoza dank ant. Serta aliran empirika yang diantara tokohnya ialah, locke, hume dan Berkeley.
4. METAFISIKA
Asal kejadian alam
Aliran mu'tajialah mengakui bahwa tuhan menciptakan alam bahwa tuhan mendahului segala yang baru dan sudah wujud sebelum ada mahliknya. Timbul pertanyaan alam ini dibuat dari apakah dan mutajilah sepakat bahwa alam muncul dari tiada ( adam)

Pengertian adam menurut kaum muslimin adalah adam yang mutlak artinya tidak ada sama sekalibaik dalam kenyataan maupun dalam gambaran pikiran. Kaummu'tajilah mempunyai penafsiran sendiri mengenai adam, karena adam adalah bahan ( madah , metter ) alam semesta. Jadi alam semesta menurut aliran mutajiloah ala mini terbuat dari dua bagian, yaitu bahanya yang diambil dari adam dan wujudnya dari tuhan dengan kata lain adam adalah metter ( hule ) alam semesta, wujud ialah form ( Bentuk, sifat )
Menurut muktajilah adam terbagi dua, adam yang tidak mungkin, yaitu yaitu yang tidak akan menjadi wujud, karena ia bukan sesuatu, dan adam yang mungkin, yang sebelum menjadi wujud telah terjadi sesuatu artinya ada dzat dan hakekat, untuk wujud adam yang mungkin ini sebagai suatu zat dan kenyatan, aliran muktajilah member argumentasi sebagai berikukt;
1. Tahu ( ilmu ) harus berdasar sesuatu yaituyang diketaui ( ma'lum ) karena adam tersebut diketahui, sebab itu mempunyai konsepsi (pikiran ) tentang adam tersebut, maka arti adam tersebut adalah sesuatu itu sendiri.
2. Ilmu tuhan itu adalah qodim dan objeknya juga qodim karena tuhan mengetahui segala sesuatu sebelum wujudnya maka artinya segala sesuatu itu telah menjadi sesuatu sebelum wujud.
Ketika tuhan memberikan sifata kepada sesuatu maka ia hanya menambahkan sifat wujud kepadanya., kaum muktajilah berkehendak mempertahankan prinsif tuhan tidak yang menyamai dan tidak terkena sifat kebendaan.

Teori kumun ( sembunyi dan tersimpan )
Menurut an nazam tuhan menciptakan mahkluk, manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan dan bahan- bahan tambang serta wujud lainnya, sekaligus dalam waktu yang bersamaan ( waktu yang satu ) karena itu penciptaan nabi adam tidak berarti paling dahulu daru anak-anaknya, tetapi tuhan menyembunyikanya mahluk di dalam mahluk lain.
Menurut as syihristani , pikiran an nazzham dari filosof-filosof naturalis, bukan filosof-filosof ketuhanan. Menurut mac Donald pemikiran tersebut merupakan usaha untuk mempertemukan penjelasan dari al quran bahwa alam semesta di ciptakan dengan waktu terbatas, sedangkan menurut aries toteles bahwa ala mini adalah qodim dan akan kekal selamanya. Namun pendapat mac Donald tidak tepat karena telah jelas an nazzham mengakui penciptaan alam semestaini dengan satu waktu, lebih tepatnya teori an nazzham ini sama dengan teori evolisi modern.

Tata susunan alam
Sesudah membicarakan adam sebagai asal kejadian alam semesta ini aliran mutajilah melanjutkan pembahasanya tentang hokum yang menggerakanya ( hokum alam ) dala hal ini mereka mengambil pemikikiran orang stoic yang mengaku adanya hokum keharusan yang mutlak dan tepat. ( hokum alam ) yang menguasai alam semestakarena tiap-tiap benda mempunyai sifat dan tabiat serta daya kerja sendiri-sendiri.akan tetapi hokum ini tidak berlaku pada tuhan karena tuhan bukan benda, dan juga tidak berlaku pada perbuatan manusia, karena tabiat manusia berada diatas tabiat benda.
Aliran muktajilah berpendapat tentang susunan alam yang berbeda konsepsi dengan aries toteles, menurut aristoteles (peripatetic) defenisi' sesutu' itu terdiri dari genus ( jenis ) dan diferentia ( fasal ) dan muktajilah berpendapat bahwa maksud defenisi hanyalah sekedar mengadakan pembedaan antara sesuatu dengan yang laianya.
Kalau aristoteles mengartikan jisim ( substance ) sebagai sesuatu yangbersumber dari hule ( matter ) dan form maka alaf mengatakan bahwa jisim adalahyang mempunyai kanan kiriluar, dalam, atas dan bawah. ( enam bagian sekurang-kurangnya ) dan muamar mengatakan bahwa jisim adalah yang mempunyai panjang lebar, dan dalam, ( tiga dimensi ) dan ditambah lagi menjadi delapan seperti depan belakang kairi kanan dan sebagainya.

Djohar fard
Soal atom dibahas oleh muktajilah karaena hal tersebut berkaitan dengan prinsip ketuhanan, kalau tuhan berkuasa atas sesuatu mak aartinya tuhan berkuasa memisah-misahkan jisim ( benda ) sampai kepada bagian yang tidak bisa di bagi-bagi( tunggal, atom )atom adalah benda yang tidak memiliki dimensidan tidak ada sifat penyusunan dsn pemisahan didalamnya.
Orang muktajilah lama tidak memberikan argumentasi terhadap atom tersebut karena atom merupakan persoalan dari kekuasaan tuhan, namun setelah an nazzham tidak mengakui adanya atom, baru aliran mu'tajilah memberikan argumentasinya tentang adanya atom baik yang bercorak agama maupun bercorak pemikiran murni.sepertio yang dikutip oleh pines dalambukunya beitrage zur islamischen atomlehre yang diterjemahkan dalam bahasa arab berjudul mazhab azzarrah indal muslimin dari ibnu hazm antara lain;
1. Kalau tidak ada atom tentu orang yang berjalan menempuh jarak yang terbatas berarti menempuh jalan yang tidak habis-habisnya karena jarak ini dapat dibagi-bagi sampai tidak ada habisnya.
2. Kalau tuhan menggabung-gabungkan benda apakah tuhan dapat memisahkan bagian-bagian sehingga menjadi tidak bisa dibagi-bagi, ataukah tidak dapat, kalau tidak dapat berarti tuhan tidak kuasa
3. Ilmu tuhan meliputi segala sesuatu. Hal ini mengharuskan kita mengakui bahwa tuhan mengetahui bagian-bagiaan benda. Dan oleh karena itu bagian-bagian tersebut adalah terbatas.dan apabila benda tersebut diketahui didak sampai pada penghabisan.

Pengikut